Ini Strategi Pemkot Surabaya Agar Genangan Air Cepat Surut
ANTISIPASI BANJIR: Rumah Pompa Di Aliran Sungai Menjadi Andalan Saat Hujan Mengguyur Kota Surabaya. (ISTIMEWA)
By: harun
16 Jan 2020 15:55
 
 

SURABAYA - Hujan deras yang mengguyur Kota Surabaya, Rabu (15/1/2020) sore, sempat mengakibatkan genangan di beberapa titik. Namun, sekitar dua jam, air berangsur surut. Hal ini tak lepas dari berbagai upaya yang dilakukan Pemkot Surabaya menghadapi musim penghujan.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga dan Pematusan (DPUBMP) Kota Surabaya Erna Purnawati mengatakan, ada berbagai upaya yang dilakukan untuk mengantisipasi banjir. Salah satunya yakni memastikan kondisi 204 pompa yang berada di 59 titik rumah pompa berfungsi dengan baik.

“Kalau terkait sarana prasarana di Surabaya, Insya Allah semua kondisinya siap. Apalagi sama ibu wali kota pompanya juga sudah diganti yang besar-besar (kapasitas,red.), sehingga air surutnya cepat,” kata Erna saat ditemui di ruangan kerjanya, Kamis (16/1/2020). 

Di samping itu, lanjut Erna, rumah pompa juga di-backup dengan genset. Hal ini untuk mengantisipasi ketika terjadi listrik padam sehingga rumah pompa itu masih dapat bekerja. Sedikitnya 111 genset telah disiapkan pemkot. 

“Sebagus apapun pompa kita, kalau listriknya mati misal dalam 10 menit saja maka air pasti sudah langsung naik (meluap,red.). Nah, itu sudah diantisipasi juga oleh ibu wali kota dengan pengadaan genset,” ujarnya.

Tetapi, walaupun kondisi rumah pompa sudah maksimal, terkadang ada beberapa penyebab, seperti dedaunan yang membuat saluran tersumbat. Sehingga air tidak bisa masuk ke dalam saluran kemudian meluap ke jalan. “Kadang ketika hujan disertai angin, ada dedaunan atau apa-apa itu menutup saluran. Sehingga air tidak bisa masuk ke box culvert,” ungkapnya.

Salah satunya terjadi di kawasan Ruko Darmo Park II Mayjend Sungkono. Selain salurannya kecil, dedaunan juga terlihat menyumbat sehingga mengakibatkan air meluap ke jalan. Namun, berkat kesigapan jajaran di Pemkot Surabaya, genangan air dalam waktu sekitar dua jam langsung surut.

Menurut Erna, saluran di kawasan tersebut tidak mampu menampung derasnya air hujan, karena salurannya kecil. Sebenarnya sejak 2017, pihaknya berencana memasang box culvert namun terkendala perizinan dari pihak pengembang.

“Mulai tahun 2017 itu, waktu aku bangun pedestrian, aku minta izin ke pihak pengembang untuk bongkar pagarnya agar box culvert besar bisa masuk, supaya dia tidak tergenang. Tapi mereka tidak mau. Padahal nanti kalau pekerjaan selesai, tak rekondisi (perbaiki pagarnya,red.),” kata Erna.

Memiliki kondisi tanah lebih rendah maka dibutuhkan box culvert di kedua sisi jalan dengan ukuran besar agar mampu menampung debit air saat hujan deras turun. Oleh sebab itu Erna akan berkomunikasi kembali dengan pihak pengembang kawasan Ruko Darmo Park II Mayjend Sungkono untuk bisa dipasang box culvert.

“Tempatnya dia (ruko,red.) memang lebih rendah, dia di bawahnya jalan. Tapi kalau dibangun saluran (box culvert,red.) yang besar, Insya Allah tidak lagi banjir,” katanya.

Ia menambahkan, bahwa Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini sangat concern terhadap permasalahan banjir. Karenanya, ketika hujan deras turun, Wali Kota Risma selalu ikut terjun langsung untuk memantau kondisi Kota Surabaya.

“Karena menurut ibu wali, ketika warganya terkena banjir, itu akan semakin menambah miskin mereka karena perabotan mereka bisa rusak dan sebagainya, makanya Ibu wali kota juga ikut terjun,” pungkasnya. (*)


Create Account



Log In Your Account