Desak Munaslub, Internal Golkar Konsolidasi
Beberapa petinggi berkumpul di rumah Agung Laksono.
By: admin
10 Des 2017 17:56
 
 

Jakarta (BM) - Tiga pimpinan ormas Golkar berkumpul di kediaman Agung Laksono. Pertemuan ketiga pimpinan ini untuk menyampaikan dukungan untuk adanya Calon Ketua Umum Baru pada Munaslub Partai Golkar.

Pertemuan ini dihadiri oleh Ketua Umum PPK Kosgoro 1957 HR Agung Laksono, Ketua Umum Depinas SOKSI Ade Komarudin dan Ketua Umum DPP Ormas MKGR Roem Kono. Acara dimulai pada pukul 16.15 WIB, di rumah Agung Laksono, Jalan Cipinang Cempedak, Jakarta Timur, Minggu (10/12/2017).

Pada kesempatan ini Agung Laksono mengatakan ketiga ormas ini adalah tiga ormas yang mendirikan Golkar. Dan ia mengatakan ketiga ormas ini telah memutuskan untuk Partai Golkar melakukan munaslub.

"Ketiga ormas terpanggil untuk mendesak agar partai golongan karya mengadakan munaslub,"ujar Agung.

Selain itu Ade Komarudin juga mengatakan, agar Golkar segera mengadakan rapat pleno dengan keputusan munaslub. "Kami mendesak untuk mengadakan rapat pleno dengan keputusan munaslub," ujar Ade.

Ade mengatakan hal ini penting untuk solidaritas partai Golkar dalam menghadapi pemilu yang akan datang. "Demi kepentingan solidaritas partai Golkar dalam rangka memenangkan pilkada 2018, pileg dan pilpres," ujar Ade.

Sementara itu, Gerakan Muda Partai Golkar (GMPG) yang diketuai Ahmad Doli Kurnia mengadakan saresehan nasional membahas pembaruan Partai Golkar. Para tokoh partai pun menghadiri sarasehan tersebut.

Tampak ada Airlangga Hartarto yang digadang menjadi calon Ketua Umum Partai Golkar turut datang. Selain itu tampak ada Akbar Tanjung dan Yorrys Raweyai.

Saresehan itu digelar di Hotel Manhattan, Jalan Kasablanka, Jakarta Selatan, Minggu (10/12/2017) pukul 13.40 WIB. Pembicara yang ikut hadir adalah peneliti LIPI Siti Zuhro, pengamat politik Burhanuddin Muhtadi, dan Hanta Yuda.

Ketua GMPG Ahmad Doli Kurnia mengatakan saresehan dilakukan untuk mengajak para kader membicarakan tradisi baru dalam perubahan Golkar. Perubahan yang diinginkan, menurut Ahmad Doli, adalah secara struktural.

"Saresehan ini bisa dimaknai dua hal, yang pertama kami mengajak kader Golkar berterima kasih. Terutama pada DPD partai Golkar yang ingin perubahan di partai," kata Ahmad Doli dalam sambutannya.

Ahmad Doli ingin sistem di Golkar dapat dibangun berdasarkan asas meritokratik. Dia ingin kepemimpinan ke depan tidak takut pada kritik dan perbedaan.

"Kita lihat ada pemecatan kader dalam dua tahun ini. Karena perbedaan pendapat," tuturnya.

Ahmad Doli mendorong Airlangga maju dalam pencalonan ketua Golkar mendatang. Dia ingin wajah Golkar tidak dianggap permisif dan terus diterpa isu korupsi.

"Hanya Pak Airlangga yang membawa angin perubahan dan bersih dari masalah terkait isu korupsi," terangnya.

Calon Ketum

Siti Hediati atau akrab disapa Titiek Soeharto memantapkan diri untuk maju sebagai calon ketua umum Partai Golkar dalam ajang Munaslub mendatang. Dia tahu akan berhadapan dengan Airlangga Hartarto yang juga ingin maju.

Saat ditanya wartawan perihal kesiapannya maju sebagai ketum Golkar, Titiek menjawab, "Insyaallah, insyaallah, doanya dari teman-teman semuanya. Mudah-mudahan," ujarnya di Bantul, Minggu (10/12/2017).

Soal Airlangga Hartarto yang juga akan maju sebagai calon ketum, Titiek Soeharto mengatakan semua boleh untuk maju. Dia juga menegaskan bahwa Airlangga bukanlah rivalnya meskipun akan memperebutkan posisi yang sama di Golkar.

"Kok rival sih, gak rival ya. Kita kan sama-sama, kita satu kereta kok. Satu kapal," tegasnya.

Terkait dengan pertemuanya dengan sesepuh Golkar kemarin, Titiek menyatakan hal itu dilakukan karena prihatin dengan kondisi Golkar sehingga perlu meminta nasehat, pendapat, dan masukan dari para sesepuh.

Menurutnya, Munaslub Partai Golkar perlu dilakukan secepatnya untuk memilih pemimpin yang baru. Munaslub kemungkinan akan digelar bulan Desember ini.

"Dengar-dengar mungkin minggu ke-3 dari bulan Desember ini," lanjutnya.

Menanggapi majunya Siti Hediati Hariyadi atau Titiek Soeharto, calon kuat Ketua Umum Airlangga Hartarto memberikan tanggapan. "Ya Golkar ini kan punya kader banyak, kader kader yang terbaik yang dimiliki Golkar ya tentunya itu bisa maju pada saat kontestasi munaslub itu dibuka. Oleh karena itu, Munaslub itu menjadi pintu yang penting untuk menjalankan proses organisasi," kata Airlangga sebelum sarasehan GMPG di Manhattan Hotel, Jalan Kasablanka, Jakarta Selatan, Minggu (10/12/2017).

Airlangga pun tidak gentar menghadapi Titiek. Baginya, siapapun yang memenuhi syarat tentu berhak untuk maju jadi caketum Golkar.

"Ya insyaallah sesuai dengan AD/ART kan tidak ada boleh satu orang kader pun dihalangi sejauh itu memenuhi persyaratan PDLT ya," ucap Airlangga.

Titiek menyebut saat ini rakyat ingin Golkar kembali ke Cendana, yang merujuk pada kediaman keluarga Soeharto. Meski demikian, Airlangga meyakini bahwa Golkar akan tetap menjunjung nilai-nilai pasca reformasi.

"Golkar itu sudah menjadi Partai Golkar itu pasca reformasi. Jadi tentu Partai Golkar saat sekarang mengutamakan hal hal yang terkait dengan sesudah reformasi dan Partai Golkar menjadi partai yang menjadi rujukan untuk menjalakan proses demokrasi tersebut. Oleh karena itu tentu siapapun bisa maju untuk menjadi calon ketua umum di Partai Golkar," ungkapnya.

Erlangga Lebih Kuat

Menanggapi Siti Hediati Hariyadi alias Titiek Soeharto dan Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto yang sudah terang-terangan mengajukan diri sebagai calon Ketua Umum (caketum) Partai Golkar, pengamat LIPI memberikan pendapatnya. "Memang (Titiek dan Airlangga) sama-sama keturunan. Satunya (anak) Hartarto, satunya (anak) Soeharto," kata Peneliti Ilmu Politik LIPI Siti Zuhro.

Titiek merupakan anak ke-4 Presiden Soeharto. Sementara Airlangga adalah anak Hartarto Sastrosoenarto, mantan Menteri Perindustrian periode 1983-1993 atau era Orde Baru. "Ya di Indonesia, patronase itu kan masih hal yang kayak jamak, hal yang normal," imbuh Siti.

Siti mengatakan jika potensi Titiek dan Erlangga dibandingkan untuk bursa caketum Partai Golkar, Airlangga lebih berpotensi dari Titiek. Menurut Siti, sosok Airlangga lebih diterima semua kalangan di partai berlambang pohon beringin itu.

"(Titiek) memang tidak bisa disepelekan, tetapi dalam hal track record lebih kepada Pak Airlangga saat ini. Pak Airlangga juga bukan sosok yang menimbulkan polemik saat ini. lebih bisa diterima semua kubu," ujar Siti.

Siti berpendapat sosok Airlangga mampu membenahi permasalahan yang menimpa Partai Golkar sejak Ketua Umum Setya Novanto terjerat kasus korupsi mega proyek e-KTP di KPK. Siti menyebut kondisi Partai Golkar terancam jelang pesta demokrasi Pilkada Serentak 2018 dan Pileg-Pilpres 2019.

"Golkar sekarang bukan terpuruk lagi, dalam keadaan terancam elektabilitasnya. Bagaimanapun juga kasus Setnov itu ternyata memberikan dampak yang dahsyat bagi institusi Golkar. Integritas dan kredibilitas partai menjadi satu masalah yang serius," menurut Siti.

"Sosok Airlangga bisa membenahi itu, sesuai tujuan munaslub, harus dijawab oleh orang yang kompeten benar. Masa ini belum sampai 2 tahun (Golkar) sudah terjadi munaslub lagi," sambung dia.

"Kalau mau jadi leading partai di 2019, tidak cukup mengedapankan sosok ketum. Yang diperlukan Golkar menghadirkan caleg-caleg yang the best. Showroom-nya itu caleg nanti. Itu yang akan mendongkrak Golkar," kata Siti Zuhro dalam seminar GMPG di Manhattan Hotel, Jalan Kasablanka, Jakarta Selatan, Minggu (10/12/2017).

Siti pun mendukung digantinya Setya Novanto dari Ketua Umum Golkar. Namun menurutnya, pengganti Novanto harus menjadi sosok yang kredibel dan dapat mempersatukan kader Golkar.

"Ketua umum baru, jawabannya, harus baru dari Setya Novanto. Dia harus oke dan tidak berurusan dengan hukum. Dan betul memunculkan calon yang trusted. Dan calon tadi pemersatu bagi keluarga besar Golkar," tutur Siti.

Siti menilai kesolidan partai sangat penting untuk menyongsong pemilu serentak 2018. "Kalau Golkar bisa di internal maka poin besar dapat mempublikasikan Golkar sebagai partai solid dan reliable bagi publik," terangnya.

Siti juga berpesan agar Golkar mempercepat Munaslub untuk menentukan arah partai ke depan. Namun dia juga mengatakan Golkar harus menghindarkan diri dari isu money politics.

"Kalau ingin ada semacam penilaian atau kesan positif dari konstituen atau bahkan masyarakat luas. Seharusnya kesan negatif harus diperbaiki. Termasuk bagaimana Munaslub digelar tempo cepat pada Desember dan tidak menggunakan money politics, itu serius sekali," jelasnya. (det/tit)


Create Account



Log In Your Account