BPIP Buka Jejaring Pembakti Kampung Se Indonesia
Direktur Pembudayaan BPIP Ibu Irene Camelyn Sinaga Menunjukkan Plakat Persamuhan Nasional
By: eko_bm
31 Okt 2019 15:26
 
 

Banten (BM) - Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) menggelar kongres pertamanya bertajuk "Persamuhan Nasional Pembakti Kampung", di Anyer, Banten, beberapa waktu lalu.

Ajang yang juga mempertemukan berbagai komunitas pembakti desa dari seluruh Indonesia ini, sedikitnya diikuti 500 san peserta. Presiden Pembakti Kampung Redi Eko Prastyo, kepada beritametro.news Kamis (31/10/2019) mengatakan, agenda BPIP mengangkat kembali kebudayaan lokal dan nilai-nilai Pancasila. "Ada banyak budaya dan ide kreatif para pembakti kampung yang diusung peserta di forum ini. Selain juga sebagai saluran membuka jejaring komunikasi antar komunitas se Nusantara," katanya.  

Terpisah Direktur Sosialisasi Komunikasi dan Jaringan, Aris Heru Utomo, menyatakan, perang ideologi pada hakekatnya adalah perang narasi. Mereka yang memiliki narasi kuat yang bisa memenangkan pertempuran. Dalam usaha mengarusutamakan kembali Pancasila di ruang publik, mesti bersiap dengan narasi-narasi.

“Agar dapat menyusun dan mengeluarkan narasi-narasi yang kuat maka kita mesti memberdayakan tempat-tempat produksi narasi mulai dari keluarga, dunia pendidikan dan pusat-pusat budaya. Untuk itulah, salah satu upaya yang dilakukan BPIP antara lain adalah menyelenggarakan Persamuhan Nasional pembakti kampung,” ujar Aris Heru Utomo.  

Pembukaan Persamuhan Nasional dilakukan oleh Kepala BPIP Prof. Dr. Hariyono, MPd, dan dihadiri Direktur Sosialisasi Komunikasi dan Jaringan BPIP Aris Heru Utomo, Direktur Pembudayaan BPIP Irene Camelyn SInaga, dan Kepala DInas Provinsi Banten, Neneng Nurcahya, serta para pembakti kampung dari 34 provinsi se-Indonesia.

Dalam sambutan pembukaannya Prof. Hariyono mengucapkan terima kasih kepada pegiat-pegiat kampung, karena telah menjadi inspirasi dalam mengamalkan Pancasila secara kontekstual.

Ia menambahkan, Pancasila yang dilahirkan pada 1 Juni 1945 melalui pidato Ir Soekarno, di hadapan Sidang BPUPK bukan sekadar peristiwa sejarah, tetapi merupakan transformasi sejarah yang mempersatukan suku-suku bangsa yang berdiri sendiri hinga menjadi satu,

"Ideologi Pancasila tidak hanya sebagai media statis, Pancasila adalah alat pemersatu bangsa dan sebagai lestars dinamis, bintang penuntun yang memberikan harapan agar kita menjadi bangsa yang merdeka, berdaulat, adil dan makmur," ujar Prof. Hariyono.  

Dalam acara yang berlangsung selama tiga hari tersebut, selain melakukan diskusi antar pembakti kampung, dilakukan pula pertunjukan seni budaya dari berbagai daerah.

Dalam acara pembukaan misalnya ditampilkan pertunjukan tari dan rampag bedug daerah Banten dan monolog pembacaan pidato 1 Juni 1945 yang dibawakan Wawan Setiawan.

Bukan hanya itu, peserta Persamuhan Nasional juga melakukan upacara peringatan Hari Sumpah Pemuda di halaman hotel tempat kegiatan dilaksanakan.

Setelah itu, mereka mempertunjukkan aksi budaya, termasuk pertunjukkan seni yang memadukan wastra nasional dari Dian Oerip dan musik bedug yang digawangi Gilang Ramadhan di kaki menara mercusuar Banten.(Dol)


Create Account



Log In Your Account