Pidato Jokowi: Mimpi 2045, Indonesia Keluar Dari Jebakan Kelas Menengah
Pelantikan Presiden Jokowi
By: admin
20 Okt 2019 17:33
 
 

Jakarta (BM) - Presiden Jokowi menyampaikan pidato perdana sebagai Presiden RI periode 2019-2024. Jokowi membuka pidatonya dengan berbicara tentang mimpi 1 abad Indonesia.

"Mimpi kita, cita-cita kita di tahun 2045, pada satu abad Indonesia merdeka, mestinya, insyaallah, Indonesia telah keluar dari jebakan pendapatan kelas menengah. Indonesia telah menjadi negara maju dengan pendapatan menurut hitung-hitungan Rp 320 juta per kapita per tahun atau Rp 27 juta per kapita per bulan. Itulah target kita. Target kita bersama," kata Jokowi dalam sidang MPR pelantikan presiden-wapres di gedung Nusantara, Senayan, Jakarta, Minggu (20/10/2019).

Mimpi RI pada 2045, kata Jokowi, produk domestik bruto (PDB) mencapai USD 7 triliun. Indonesia sudah masuk 5 besar ekonomi dunia dengan kemiskinan mendekati nol persen. Indonesia, masih kata Jokowi, harus menuju ke sana.

"Kita sudah hitung, sudah kalkulasi, target tersebut sangat masuk akal dan sangat memungkinkan untuk kita capai. Namun semua itu tidak datang otomatis, tidak datang dengan mudah. Harus disertai kerja keras, dan kita harus kerja cepat, harus disertai kerja-kerja bangsa kita yang produktif," ujar Jokowi.

Jokowi mengatakan, dalam dunia yang penuh risiko, yang sangat dinamis, dan yang kompetitif, kita harus terus mengembangkan cara-cara baru, nilai-nilai baru. Jangan sampai kita terjebak dalam rutinitas yang monoton.

"Harusnya inovasi, bukan hanya pengetahuan. Inovasi adalah budaya," ujarnya.

Presiden Joko Widodo mengancam bakal memecat menteri dan pejabat yang tak serius bekerja. "Saya juga minta kepada para menteri, para pejabat, dan birokrat agar serius menjamin tercapainya tujuan program pembangunan," kata Jokowi dari mimbar pelantikan presiden di ruang sidang paripurna, gedung Nusantara, kompleks parlemen, Minggu (20/10/2019).

Jokowi meminta semua menteri, pejabat, dan birokrat serius bekerja. Bila ada pembantunya yang tidak serius, Jokowi akan memecatnya.

"Bagi yang tidak serius, saya tidak akan memberi ampun. Saya pastikan, pasti saya copot," kata Jokowi.

Untuk periode keduanya, Jokowi ingin mewujudkan lima hal. Pertama, membangun sumber daya manusia (SDM). Kedua, membangun infrastruktur. Ketiga, menyederhanakan regulasi. Keempat, menyederhanakan birokrasi. Kelima, transformasi ekonomi.

 

Berorientasi Hasil

Jokowi pun mengisahkan pengalamannya pada periode pertama yang sering mendobrak rutinitas agar inovasi terus berjalan.

"Dalam dunia yang penuh risiko, yang sangat dinamis, dan yang kompetitif, kita harus terus mengembangkan cara-cara baru, nilai-nilai baru. Jangan sampai kita terjebak dalam rutinitas yang monoton. Harusnya inovasi, bukan hanya pengetahuan. Inovasi adalah budaya," ungkap Jokowi.

Jokowi pun menceritakan pengalamannya pada tahun pertama menjadi presiden. Saat halalbihalal, Jokowi diminta berdiri di titik yang telah ditetapkan protokoler. Hingga akhirnya pada tahun kedua, Jokowi tak mau ikut aturan itu.

"Langsung saya bilang ke Mensesneg, 'Pak, ayo kita pindah lokasi. Kalau kita tidak pindah, akan jadi kebiasaan. Itu akan dianggap sebagai aturan dan bahkan nantinya akan dijadikan seperti undang-undang'. Ini yang namanya monoton dan rutinitas," kata Jokowi.

"Sekali lagi, mendobrak rutinitas adalah satu hal. Meningkatkan produktivitas adalah hal lain yang menjadi prioritas. Jangan lagi kerja kita berorientasi proses, tapi harus berorientasi pada hasil-hasil yang nyata," sambung Jokowi.

Jokowi juga berbicara dirinya sering mengingatkan para menteri bahwa tugas sebagai pemerintah bukan hanya membuat dan melaksanakan kebijakan, tapi juga membuat masyarakat menikmati pelayanan dan hasil pembangunan.

"Sering kali birokrasi melaporkan bahwa program sudah dijalankan, anggaran telah dibelanjakan, dan laporan akuntabilitas telah selesai. Kalau ditanya, jawabnya 'Program sudah terlaksana, Pak'. Tetapi, setelah dicek di lapangan, setelah saya tanya ke rakyat, ternyata masyarakat belum menerima manfaat. Ternyata rakyat belum merasakan hasilnya," jelas Jokowi.

 

Eselon 2 Level

Salah satu prioritas Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam 5 tahun ke depan adalah memangkas birokrasi. Cara ekstrem diambil, yaitu dengan menyederhanakan eselonisasi.

"Penyederhanaan birokrasi harus terus kita lakukan besar-besaran. Investasi untuk penciptaan lapangan kerja harus diprioritaskan," kata Jokowi.

Dia menegaskan birokrasi yang panjang harus dipangkas.

"Eselonisasi harus disederhanakan. Eselon I, eselon II, eselon III, eselon IV, apa nggak kebanyakan?" ucapnya.

Jokowi meminta eselonisasi disederhanakan. Hasilnya, nanti eselonisasi cuma dua level. Apa gantinya?

"Saya minta disederhanakan menjadi dua level saja, diganti dengan jabatan fungsional yang menghargai keahlian, menghargai kompetensi," ujar Jokowi.

 

Bikin 2 Omnibus Law 

Presiden Joko Widodo (Jokowi) menegaskan prioritasnya untuk menyederhanakan regulasi. Salah satunya adalah lewat pembentukan dua UU.

"Segala bentuk kendala regulasi harus kita sederhanakan, harus kita potong, harus kita pangkas," ucap Jokowi.

Apa dua UU yang dimaksud?

"Pemerintah akan mengajak DPR untuk menerbitkan dua undang-undang besar. Pertama, UU Cipta Lapangan Kerja. Kedua, UU Pemberdayaan UMKM," ucapnya.

Jokowi menyebut dua UU ini sebagai omnibus law. Dia menjelaskan maksudnya.

"Masing-masing UU tersebut akan menjadi omnibus law, yaitu satu UU yang sekaligus merevisi beberapa UU, bahkan puluhan UU," tegasnya.

"Puluhan UU yang menghambat penciptaan lapangan kerja langsung direvisi sekaligus. Puluhan UU yang menghambat pengembangan UMKM juga akan langsung direvisi," pungkas Jokowi.(det/rmo/mer/tit)


Create Account



Log In Your Account