Kerusuhan Papua, 16 Warga Tewas 318 Massa Diamankan
Gedung Terbakar Di Wamena Di Tengah Aksi Demo Anarkis.
By: admin
23 Sept 2019 21:46
 
 

PAPUA (BM) - Polisi mengamankan 318 massa dalam kerusuhan yang terjadi di Jayapura, Papua. Para mahasiswa yang ditangkap diduga melakukan tindakan anarkistis.

"Sebanyak 318 diamankan mahasiswa yang diduga melakukan tindakan anarkistis," kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (23/9/2019).

Ratusan mahasiswa itu saat ini masih diperiksa polisi. Polisi akan mengklasifikasikan mahasiswa yang melakukan penganiayaan dan yang hanya ikut-ikutan.

"Sekarang dipilah siapa yang melakukan penganiayaan, kemudian siapa yang memprovokasi, dan siapa yang ikut-ikutan. Sekarang dimintai keterangan," ujarnya.

Dedi mengatakan situasi saat ini sudah berangsur kondusif. Polisi mengimbau masyarakat tidak terpancing hoax. "Saat ini berangsur kondusif. Masyarakat diimbau jangan percaya berita hoax yang membuat situasi panas dan terjadi kerusuhan," ujarnya.

Sebelumnya, tiga mahasiswa tewas dalam kerusuhan di Expo Waena, Jayapura, Papua. Tiga mahasiswa tewas, satu prajurit TNI gugur, dan 6 anggota Brimob terluka.

"Dugaan (karena) peluru karet, tapi harus diautopsi dulu. Tim DVI masih melakukan pengecekan identitasnya. Penyebab masih didalami tim DVI," ujar Dedi.

 

Kerusuhan

Kerusuhan terjadi di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua, Senin (23/9/2019). Kerusuhan tersebut tak hanya merusak bangunan dan fasilitas umum. Kerusuhan dan bentrokan yang terjadi ternyata juga mengakibatkan korban jiwa. 

Komandan Kodim 1702 Jayawijaya Letkol Inf Candra Diyanto mengatakan, terdapat 16 orang warga sipil yang tewas dalam kerusuhan. Sementara, 65 orang lainnya menderita luka-luka. 

"Untuk korban, 65 orang luka, 16 meninggal, itu sipil semua. Aparat sementara tidak ada korban," ujar Candra Diyanto. 

Namun, Candra belum bisa menjelaskan secara rinci penyebab korban tewas. Saat ini, ia memastikan bahwa situasi mulai kondusif. Namun, seluruh aparat masih dalam posisi siaga.

“Aparat stand by 24 jam, semua objek vital kita amankan. Secara umum untuk di kota kondusif, namun kita antisipasi ada aksi susulan," kata Candra. 

Sebelumnya, demonstran bersikap anarkistis hingga membakar rumah warga, kantor pemerintah, PLN, dan beberapa kios masyarakat. Unjuk rasa yang berujung kerusuhan itu diduga dipicu oleh perkataan bernada rasial seorang guru terhadap siswanya di Wamena. 

Hal itu membuat siswa marah hingga kemudian kabar itu meluas dan memicu aksi unjuk rasa pelajar di Kota Wamena. 

Aparat kepolisian dan TNI berusaha memukul mundur siswa demonstran. Hal itu berlangsung sekitar 4 jam. 

Namun, siswa demonstran tetap bertahan dan semakin membuat kerusuhan.

Menurut saksi, John Roy Purba, suara tembakan terdengar di mana-mana selama 3 jam. John Roy menyebutkan, sebagian warga panik karena kehilangan anggota keluarga. 

Selain itu, semua warga di kota itu sudah mengungsi ke kantor polisi dan Kodim. Massa yang berunjuk rasa berusaha merangsek masuk ke pusat bisnis Wamena. Namun, mereka segera dihadang aparat kepolisian. 

Wamena merupakan ibu kota Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua. Kota ini merupakan satu-satunya yang terbesar di pegunungan tengah Papua. 

Di Wamena juga terdapat pusat bisnis, sehingga ketika terjadi kerusuhan, kawasan itu dijaga ketat aparat kepolisian. 

Presiden Joko Widodo pernah dua kali mengunjungi Kota Wamena, yakni pada 28 Desember 2014 saat membicarakan persoalan-persoalan yang ada di daerah itu. 

 

Kantor Bupati Dibakar

Sejumlah anggota aparat menjadi korban akibat kerusuhan di Expo Waena, Jayapura, Papua. Satu prajurit TNI gugur, 6 anggota Brimob terluka.

Kabid Dokkes Polda Papua Kombes dr Agustinus menyebut enam anggota Brimob menjalani perawatan akibat luka yang dialami. Sedangkan prajurit TNI yang gugur yakni anggota Yonif 751 Raider, Praka Zulkifli

"Saat ini enam anggota Brimob masih dirawat di RS Bhayangkara," kata Agustinus dikutip Antara, Senin (23/9/2019).

Sedangkan dari warga sipil, Agustinus menyebut ada 20 orang yang dirawat. "Belum diketahui nama-nama korban yang dirawat karena yang terpenting menolong korban yang terluka," imbuhnya.

Sementara itu, Kabid Humas Polda Papua Kombes Ahmad Kamal secara terpisah mengatakan, kerusuhan berawal saat pemulangan para pendemo ke arah kawasan Expo Waena.

Pemulangan para pendemo ke kawasan Expo sesuai kesepakatan dengan Kapolres Kota Jayapura. Polisi membantu pemulangan pendemo yang sebelumnya berada di halaman depan auditorium menggunakan 15 truk.

Namun saat kendaraan yang mengangkut mereka berada di Jembatan Waena, para pendemo minta diturunkan dari truk. Pendemo tiba-tiba menyerang anggota TNI yang beristirahat di warung.

 

Kronologi

Polisi menyebut rusuh di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua, berawal dari bentrok pelajar juga masyarakat. Massa kemudian membakar sejumlah bangunan di Wamena.

Kabid Humas Polda Papua Kombes Ahmad Mustofa Kamal memaparkan, pada sekitar pukul 07.25 WIT, terjadi penyerangan ke Sekolah Yapis Wamena. Penyerangan diduga dilakukan massa bersama pelajar dari SMA PGRI.

"Telah terjadi penyerangan ke Sekolah Yapis Wamena oleh anak SMA PGRI yang tergabung dengan masyarakat kurang-lebih sekitar 200 orang," kata Kamal dalam keterangan tertulis kepada wartawan, Senin (23/9/2019).

Penyerangan, menurut Kamal, terjadi saat pelajar SMA PGRI berdemonstrasi di halaman sekolah dengan mengajak sekolah Yayasan Yapis. "Namun Sekolah Yapis tidak mau ikut demonstrasi, sehingga anak sekolah Yayasan Yapis melakukan perlawanan," imbuh dia.

Dari sini massa membakar sejumlah fasilitas pemerintah, umum, dan milik warga. Polisi dan TNI masih berupaya mengendalikan situasi.

"Terkait dengan isu ucapan rasisme, itu tidak benar. Kami juga sudah menanyakan kepada pihak sekolah dan guru dan kita pastikan tidak ada kata-kata rasis. Kami harap masyarakat di Wamena dan di tanah Papua tidak mudah terprovokasi isu yang belum tentu kebenarannya," tutur Kamal.

Sementara itu, Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo sebelumnya menyatakan demo yang berujung pembakaran itu diduga dipicu hoax. Namun belum dijelaskan hoax rasis yang dimaksud.

"Untuk Wamena, saat ini situasi sudah dikendalikan oleh aparat dari TNI dan Polri," kata Dedi di Mabes Polri, Jakarta.

Dedi menyampaikan pihaknya terus melakukan dialog dengan para tokoh, seperti tokoh masyarakat, agama, dan adat. "Untuk sama-sama kita menjaga situasi kamtibmas," ujarnya.

Selain di Wamena, kerusuhan terjadi di Expo Waena, Jayapura. Satu anggota TNI gugur dan dua personel Brimob terluka.(det/kom/tit)


Create Account



Log In Your Account