Sidang CLS Waduk Sepat, Saksi Pihak Ciputra Beberkan Fakta Eksekusi Sesuai Aturan
By: era
21 Nov 2019 10:25
 
 

SURABAYA (BM) - Sidang gugatan perbuatan melawan hukum Citizen Law Suit (CLS) dari seorang warga bernama Hermanto kepada Pemerintah Kota Surabaya, DPRD Kota Surabaya, dan Kepala BPN Kota Surabaya, Rabu (20/11), di Pengadilan Negeri Surabaya, memasuki agenda pemeriksaan saksi dari penggugat intervensi yakni  PT. Ciputra Kirana Dewata. Sidang di Ruang Sari 2 yang dimulai pada pukul 10.00 WIB ini menghadirkan Sigit Prasetyo sebagai saksi tergugat intervensi.

Dalam keterangannya di depan majelis hakim, Sigit Prasetyo yang merupakan mantan karyawan PT. Ciputra Surya menjelaskan hal-hal terkait dengan eksekusi lahan yang terjadi pada tahun 2015. Saat itu Sigit bertugas melakukan sosialisasi kepada warga sebelum dilakukan eksekusi, terutama kepada warga yang memiliki tanaman sayur mayur dan warung yang ada di lokasi yang disebut waduk Sepat. Sigit sendirilah yang menyerahkan uang ganti rugi kepada warga, yaitu 12 orang pemilik warung dan 7 orang pemilik tanaman.

Sebagai saksi tergugat intervensi, Sigit juga menceritakan upaya PT. Ciputra untuk melakukan perbaikan saluran air di permukiman warga, yang sebelumnya sering banjir karena ukuran saluran terlalu kecil untuk menampung debit air yang melewati saluran warga. Tidak hanya itu, Sigit melanjutkan, perusahaan perumahan ini juga telah membangun sejumlah fasilitas umum seperti mushala, lapangan futsal, serta balai pertemuan.

Sigit juga menerangkan rencana pembangunan kawasan yang disebut waduk Sepat, yang tidak seluruhnya akan dibangun perumahan. PT. Ciputra dalam perencanaannya hanya memanfaatkan sebagian untuk perumahan, sedangkan sebagian besar lainnya berupa ruang terbuka hijau dengan waduk buatan yang akan dioptimalkan.

Hal ini sejalan dengan keterangan Saksi sebelumnya, Kholik dan Didit, sebagai warga asli yang tinggal di sekitar lokasi Waduk Sepat. Mereka  menyatakan bahwa warga Lidah Kulon telah mengetahui  bahwa lahan tersebut telah berpindah kepemilikan kepada PT. Ciputra semenjak adanya tukar guling lahan di tahun 2008. Warga mengetahui hal tersebut berdasarkan sosialisasi yang sudah dilaksanakan sebelum terjadinya ruslag, baik dari Pihak Pemerintahan Kota Surabaya dan juga dari Pihak PT. Ciputra Surya. 

Kholik dan Didit juga menyatakan bahwa, semenjak terjadinya ruislag pihak PT. Ciputra Surya juga telah melakukan beberapa pembangunan bagi warga lidah kulon, yaitu pembangunan saluran air yang membantu menyebabkan intensistas banjir berkurang.

Namun cukup disayangkan, kata Kholik dan Didit, fasum tersebut sampai sekarang masih belum dapat digunakan untuk kepentingan warga Lidah Kulon. Hal ini karena adanya gerakan dari beberapa warga yang masih tidak setuju dengan adanya proses ruislag tersebut, sehingga menyebabkan pihak perusahaan belum bisa melakukan penyerahan fasum kepada Pemerintah Kota Surabaya. Fasum itu nantinya akan diserah terimakan kepada warga Lidah Kulon untuk dapat dipergunakan.

Corporate Legal Officer PT. Ciputra Development, Tbk, Rina Irsni Wardodo mengatakan, pihaknya mengaku cukup puas dengan keterangan saksi intervensi, karena telah mengungkapkan fakta-fakta yang terjadi pada saat terjadinya eksekusi. Terlebih bahwa PT. Ciputra Development, Tbk, telah memberikan bentuk tanggung jawab sosialnya berupa ganti rugi.

“Ini menandakan bahwa perusahaan telah melakukan kewajibannya, dan menjalankan sesuai aturan yang ditentukan. Ini juga menegaskan bahwa memang tanah itu adalah milik PT. Ciputra sebagai pemilik sah, setelah melakukan tukar guling dengan Pemkot Surabaya,” kata Rina.

Keterangan saksi tergugat intervensi kata Rina, membantah bahwa lahan tersebut merupakan milik warga, dan menegaskan kejelasan proses tukar guling telah berjalan dengan benar.

“Selama ini warga menganggap itu adalah aset warga, padalah itu awalnya adalah aset milik pemkot,” tandas Rina.

Sidang selanjutnya akan digelar pada 27 November 2019, dengan agenda mendengarkan keterangan saksi ahli dari pihak Penggugat intervensi.


Create Account



Log In Your Account