By: ibad
21 Nov 2019 12:10

Kediri-Perseteruan antara Slamet Boncolono (65) warga Desa Singkalanyar Kecamatan Prambon dan keluarga Slamet (84) yang juga warga setempat saat ini masih berlanjut.

Bahkan lantaran  dituduh melakukan pengrusakan, Slamet Boncolono akan mengambil langkah hukum yang tegas kepada  pelapor,yakni Muari Sudarsono ( 51) dan Sundariyah (51) yang merupakan anak dan menantu dari Slamet.

Slamet Boncolono mengaku kalau sebidang tanah pekarangan Persil 55 DII yang luasnya 1400 M2 di  Desa Singkalanyar adalah tanah miliknya. Hal itu dibuktikan dengan dokumen- dokumen yang ada serta berdasarkan hasil keputusan dari pengadilan agama Kabupaten Nganjuk putusan No.77 Pdt.G/ 2002 /PA.NGJ. yang telah memenangkan pihak Slamet Boncolono. " Saya bukti copyannya hasil putusan dari pengadilan agama juga masih ada, " ujarnya.

Sehingga menurutnya tuduhan pengrusakan yang dialamatkan pada dirinya tidak mendasar. Justru pihak keluarga Slamet yang diduga malah melakukan penyrobotan tanah,karena bangunan milik Slamet berada diatas lahan tanah miliknya. " Saya sudah ukur ulang, Kalau bangunan milik Muari dan Sundariyah ternyata masuk ke bidang tanah milik kami" ujarnya lebih lanjut.

Sebetulnya Slamet Boncolono mengaku masih berkeinginan menyelesaikan masalah sengketa waris tersebut dengan cara kekeluargaan. Namun tampaknya pihak
Muari S. dan Sundariyah sudah keterlaluan sampai teganya  mendolimi kami    dengan melaporkannya ke Polisi.

" Pengrusakan itu kan urusan pidana. Untuk itu kami dalam waktu secepatnya akan mengambil langkah hukum yang serius terhadap pelapor dan 
. Saya yakin bahwa Polisi itu tidak bodoh dan tetap berpihak pada kebenaran . Sudah faham mana urusan perdata dan mana urusan pidana," jelasnya.

Sementara Muari S. yang merupakan menantu dari Slamet dan juga yang melaporkan Slamet Boncolono ke Polisi, saat dikonfirmasi melalui telepon selulernya belum di angkat. Dan ketika di watshap juga tidak di balas.

Untuk diketahui Slamet Boncolono dilaporkan oleh Muari S. dengan tuduhan pengrusakan bangunan di atas lahan tanah Persil 55 seluas 1400 M2. Padahal tanah tersebut adalah milik Slamet Boncolono dan ahli waris.

Akibat laporan tersebut Slamet Boncolono sejak September 2018 sering dipanggil oleh Polres Nganjuk hingga sekarang. Bahkan dalam kurun waktu tersebut statusnya juga tidak jelas." Hampir setiap seminggu sekali saya dipanggil oleh penyidik Polres Nganjuk. Secara tidak langsung juga menyita fikiran, waktu dan memengaruhi psikologis seseorang.'" Imbuhnya.

Slamet Boncolono menduga, dengan sering dipanggilnya oleh penyidik Polres Nganjuk,hanya sebagai bentuk menakut-nakuti saja. " Masak sudah ada satu tahun, sejak September 2018  hingga sekarang 2019 hanya dipanggil dimintai keterangan sebagai saksi saja." Pungkasnya.(bd)


Create Account



Log In Your Account