Belajar Dari Transportasi Air Dan Pariwisata Bangkok Thailand
Kapal Pesiar Berukuran Kecil Saat Melintasi Sungai Chao Phraya Bangkok Yang Terhubung Dengan Teluk, Minggu (27/10) Siang. (HARUN EFFENDY)
By: harun
29 Nov 2019 09:49
 
 

BANGKOK (BM) – Salah satu negara anggota ASEAN, Thailand belakangan ini menjelma menjadi destinasi wisata kelas dunia. Diantara tujuan wisata tersohor di Negeri Gajah Putih itu adalah Pattaya. Namun, bukan eksotisme Pattaya yang coba digali oleh 45 delegasi Pemkot Surabaya saat berkunjung ke Bangkok, 27-29 Oktober 2019 lalu. Akan tetapi, kemiripan geografis sungai di Surabaya dan Bangkok mendorong Pemkot Surabaya mengirimkan delegasi dari unsur OPD terkait dan wartawan untuk belajar pemanfaatan sungai di Bangkok.

Perjalanan dinas dimulai dengan penerbangan GA 305 Garuda Indonesia, Minggu (27/10) pukul 06.15 WIB tujuan Jakarta. Disambung pukul 09.35 WIB tujuan Bangkok dengan pesawat GA 866. Tiba di Bangkok sekitar pukul 13.10 waktu setempat, perjalanan dilanjutkan untuk makan siang dan mengunjungi Wat Arun lewat sungai Chao Phraya. Dermaganya terletak di belakang Bangkok River City Mall.

Kemudian, kami sudah ditunggu kapal boat yang mengangkut ke kuil (pagoda) Wat Arun. Arus di sungai ini bergelombang kuat karena terhubung langsung dengan teluk. Suasananya cukup ramai hilir mudik kapal pesiar kecil dan kapal transportasi. Sepanjang perjalanan kami lihat banyak kuil Buddha, dan juga nampak masjid. Selain itu, ada menakjubkan lainnya, seperti gedung pencakar langit. Sebelum turun, kami ditunjukkan pada sekumpulan ikan patin, lalu dilempar roti, mereka sekejap mata berebut makanan. Menurut kepercayaan lokal, bagi pengunjung yang melihat patin putih, maka akan dekat keberuntungan.

Puas melihat kuil sekaligus berbelanja oleh-oleh di Wat Arun, kami melanjutkan perjalanan ke Baiyoke Sky Hotel di pusat Bangkit, tempat kami menginap. Hotel ini adalah yang tertinggi di Asia Tenggara dengan 84 lantai. Kami jumpai begitu banyak turis asing bermalam di sini. Kembali ke Wat Arun, terdapat pemandangan unik, yakni pedagang kaki lima di sini piawai berbahasa Indonesia, dan pembayaran rupiah pun juga diterima mereka selain mata uang bath.

Keesokan harinya, Senin (28/10) pukul 10.00 kami diterima pejabat terkait Pemkot Bangkok di Thani Nopparat Building. Di sini, delegasi berdiskusi soal pelayanan publik, transportasi dan pariwisata. Selanjutnya, kami diajak menikmati perjalanan air sungai dari dermaga Bang Wa ke Tha Chang. Catatan penulis, nahkoda kapal boat terlihat mahir saat putar balik maupun kala berpapasan di persimpangan sungai dengan kapal boat lain.

Usai pertemuan, pimpinan delegasi Pemkot Surabaya, Muhamad Fikser menjelaskan bahwa hal yang perlu digarisbawahi dari kunjungan kerja ini yakni Thailand negara berbentuk kerajaan, sehingga rakyatnya taat sama titah rajanya. “Yang perlu dicatat, sistem pemerintahan di sini (Bangkok) kerajaan, jadi penanganannya beda di Surabaya,” kata Fikser sembari mencontohkan larangan merokok di Bangkok.

Benar, sebab selama di kota ini, tidak ada area merokok sebagaimana di Indonesia. Sehingga, bahkan saat di hotel pun para perokok berat harus bertanya kepada petugas tempat merokok, sebab kalau salah saja, sanksi tegas berlaku di Bangkok tanpa pandang bulu. Selain itu, yang khas di kota ini adalah, foto-foto berukuran raksasa daripada raja, ratu dan permaisuri kerajaan Thailand terpampang di gedung-gedung pemerintah dan tempat strategis. Tiap Senin, dijumpai di jalan-jalan bendera berwarna kuning simbol hari kerajaan.

Malam harinya, kami makan malam di Nopparat Resto yang disajikan tarian lokal dan drama, selanjutnya kembali ke pasar wisata, kali ini di Asiatique Riverfront, di sini kami temukan depot yang memajang buaya panggang. 

Pada hari ketiga, Selasa (29/10) kami beranjak balik ke tanah air. Namun, pukul 10.00 kami mampir KBRI di Bangkok, sebagai tradisi warga negara Indonesia yang ke luar negeri wajib melaporkan kegiatan di kantor perwakilan Indonesia setempat. Di sini, kami mendapatkan banyak penjelasan dari pihak KBRI diantaranya, jawaban dari pertanyaan kenapa pariwisata di Thailand maju pesat.

Menurut KBRI, meski memiliki populasi 67 juta jiwa, tiap tahun Thailand dikunjungi hingga 40 juta wisatawan asing. Prestasi ini mempunyai beberapa sebab, diantaranya dibukanya kantor PBB area Asia Pasifik sehingga organisasi turunan PBB dan perwakilan asing lainnya turut membuka kantor cabang. Selain itu, program pertanian di Thailand menjadi komoditi yang mendunia. Hal lain, dibukanya destinasi wisata Pattaya, semacam dunia hiburan bebas yang mampu menyedot wisata mancanegara. Fenomena lain, wisatawan Barat acapkali menetap selama enam bulan saat dilanda musim dingin di negara asal.

Sebagai ringkasan perjalanan selama tiga hari tersebut, penulis mencatat beberapa hal menakjubkan, yakni hasil pertanian sayuran dan buah-buahan Thailand sangat unggul, semua tumbuh maksimal dan sehat, barangkali ini yang membuat pesepakbola Thailand bertenaga kuda. Namun, soal masakan Thailand, Anda harus cepat adaptasi, karena punya cita rasa khas. Dari sekitar lima tempat makan, hanya satu yang bisa diterima lidah Indonesia. Jadi, kalau ke Thailand sebaiknya bawa bekal makanan lokal.

Soal transportasi air, bahwasanya material dan alat-alat berat didistribusikan melalui sungai, hal ini dilakukan untuk meminimalisir kerusakan jalan raya. Untuk itu debit kedalaman air 3 meter betul-betul dijaga agar tidak menggangu perjalanan kapal boat yang menuju hingga pedalaman kota Bangkok.

Kemudian, dari sisi bahasa, ternyata banyak warga Thailand khususnya penjual kaki lima pintar berbahasa Indonesia. Hal ini terjadi karena, wisatawan asal Indonesia menempati urutan ketiga setelah Cina dan India. Selain itu, KBRI juga memberikan beasiswa kuliah 15 mahasiswa asal Thailand belajar di Indonesia.

“Orang Thailand tidak pandai bahasa Inggris karena saat sekolah gurunya orang lokal, sebentar bahasa Inggris kembali bahasa Thailand, sehingga orang seperti saya mengikuti perkembangan Indonesia di televisi, karena banyak orang-orang Indonesia ke Thailand,” tutur Somcay, tour guide lokal selama kunjungan kerja ke Thailand.

Catatan lain, yang paling fenomenal, yakni di tempat-tempat keramaian banyak sekali dijumpai turis lalu lalang. Dan tidak kalah hebohnya, mudah dijumpai orang laki-laki yang berdandan bak wanita. Maklum, karena salon kulit di Bangkok banyak ditemukan. Bahkan, saat perjalanan pulang ke Jakarta, orang Indonesia seperti nampak pulang dari operasi plastik di Thailand.

Banyak hal unik lain dari Bangkok yang mungkin belum dapat ditangkap dari perjalanan dinas yang hanya tiga hari, karena masih banyak destinasi wisata di negeri ini, termasuk destinasi wanita-wanita paling cantik di Thailand yang sangat sayang kalau dilewatkan. (han)


Create Account



Log In Your Account