AS Bunuh Jenderal Sulaimani, Iran Akan Balas Dendam
Warga Iran Mengiring Jenazah Jenderal Qassim Sulaimani
By: admin
5 Jan 2020 18:33
 
 

TEHERAN (BM) – Hubungan AS dengan Iran kembali memanas setelah serangan pesawat tanpa awak milik AS menyerang dan menewaskan Komandan Iran Jenderal Qassim Sulaimani. Saat melayat, Presiden Iran, Hassan Rouhani menyinggung balas dendam terhadap AS.

"Amerika tidak menyadari kesalahan besar yang telah diperbuat. Mereka akan melihat dampak dari tindakan kejahatannya, tidak hanya hari ini, tapi untuk tahun-tahun yang akan datang," jelasnya, dikutip dari The New York Times, Minggu (5/1).

"Pembalasan itu pasti," tegas Kepala Korps Garda Revolusi Iran, Jenderal Mohammad Reza Naghdi dalam siaran televisi.

"AS seharusnya tidak membuang-buang waktunya mengirimkan kami pesan, surat-surat dan penghubung," lanjutnya.

Reza Naghdi mengatakan, pejabat AS telah menggerakkan setiap orang agar mencegah Iran melakukan pembalasan.

"Jika Anda cukup jantan, kenapa tidak Anda lakukan sendiri?"

Pembunuhan Jenderal Sulaimani diprediksi akan semakin memicu anti-Amerikani di Iran, kata Hamidreza Azizi, asisten profesor hubungan internasional di Universitas Shahid Beheshti Iran.

"Ini akan mengikis wajah kamp moderat di dalam Iran, dan itu bahkan akan mengubah kaum moderat menjadi garis keras," katanya.

Sebelumnya, mantan Panglima Garda Revolusi Iran (IRGC) mengatakan akan melancarkan balas dendam terhadap Amerika Serikat yang telah membunuh Qassim Sulaimani dalam sebuah serangan drone di Bandara Internasional Baghdad, Irak.

"Sulaimani menjadi syuhada bersama saudara-saudara lainnya tapi kami akan membalas keras Amerika," kata Mohsen Rezai, yang saat ini adalah Kepala Dewan Kebijaksanaan dalam kicauannya di Twitter.

Kantor berita ISNA melaporkan, badan keamanan tertinggi Iran juga langsung mengadakan rapat darurat hari ini atas kejadian itu.

"Dalam beberapa jam ke depan rapat darurat Dewan Keamanan Nasional Tertinggi akan digelar untuk membahas serangan terhadap kendaraan Jenderal Sulaimani di Baghdad yang membuat beliau syahid," kata ISNA mengutip juru bicara Keyvan Khosravi, seperti dilansir laman Channel News Asia, Jumat (3/1).

Menteri Luar Negeri Iran mengutuk pembunuhan ini dan menyebut AS bertanggung jawab atas segala dampak yang timbul atas serangan ini.

"Tindakan terorisme internasional AS dengan menyasar dan membunuh Jenderal Sulaimani sangat berbahaya dan bodoh," kata Muhammad Javad Zarif di Twitternya. [pan]

 

Hantam 52 Situs Iran 

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memperingatkan bahwa pihaknya menargetkan 52 situs di Iran dan akan menghantamnya dengan 'sangat cepat dan sangat keras' jika republik itu menyerang personel atau aset Amerika.

Dilansir AFP, Minggu (5/1/2020), dalam cuitannya saat membela serangan AS di Irak pada Jumat (3/1) lalu yang menewaskan Komandan Iran Qasem Soleimani, Trump mengatakan 52 situs itu mewakili warga Amerika yang disandera di Kedubes AS di Teheran selama lebih dari setahun sejak akhir 1979.

Trump mengatakan, beberapa dari situs tersebut "pada tingkat yang sangat tinggi & penting bagi Iran & budaya Iran, dan target-target itu, dan Iran itu sendiri, AKAN DIHANTAM SANGAT CEPAT DAN SANGAT KERAS. AS tidak menginginkan ancaman lagi!"

Trump berbicara setelah faksi pro-Iran meningkatkan tekanan pada instalasi AS di seluruh Irak dengan rudal dan peringatan kepada pasukan Irak -- bagian dari ledakan kemarahan atas pembunuhan Qasem Soleimani yang digambarkan sebagai orang paling kuat kedua di Iran.

Dengan Iran menjanjikan balas dendam, pembunuhan Soleimani adalah eskalasi yang paling dramatis namun dalam ketegangan yang meningkat antara Washington dan Teheran dan telah memicu kekhawatiran akan terjadinya kebakaran besar di Timur Tengah.

Dalam petunjuk pertama tentang kemungkinan adanya aksi balas dendam atas aksi AS, dua peluru mortir menghantam sebuah area dekat kedutaan besar AS di Baghdad pada hari Sabtu (4/1). Hampir secara bersamaan, dua roket juga menghantam pangkalan udara Al-Balad tempat pasukan Amerika dikerahkan, kata sumber-sumber keamanan.

Militer Irak mengkonfirmasi serangan rudal di Baghdad dan di al-Balad dan mengatakan tidak ada korban. Militer AS juga mengatakan tidak ada pasukan koalisi yang terluka.

Dengan orang-orang Amerika bertanya-tanya dengan penuh rasa takut jika, bagaimana dan di mana Iran akan membalas pembunuhan itu, Departemen Keamanan Dalam Negeri AS mengeluarkan buletin yang mengatakan "saat ini tidak ada ancaman spesifik dan kredibel terhadap tanah air."

Namun pada hari Sabtu situs web Program Perpustakaan Penyimpanan Federal, sebuah lembaga pemerintah AS yang kurang dikenal, diretas oleh sebuah kelompok yang mengklaim terkait dengan Iran, yang memasang gambar-gambar yang memperlihatkan bendera Iran dan bersumpah akan membalas dendam atas kematian Soleimani.

Secara terpisah, Ketua DPR AS Nancy Pelosi mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa informasi yang diberikan kepada Kongres oleh Trump, seorang Republikan, "menimbulkan pertanyaan serius dan mendesak tentang waktu, cara dan pembenaran" pemogokan.

"Keterlibatan militer provokatif, eskalatoris, dan tidak proporsional Administrasi Trump terus menempatkan prajurit, diplomat dan warga negara Amerika dan sekutu kita dalam bahaya," kata senator asal Demokrat itu.

 

Trump Adalah Teroris 

Setelah berjanji akan mambalas dendam, kali ini Iran mengutuk Presiden AS Donald Trump.

Melalui akun Twitternya, Menteri Informasi dan Telekomunikasi Iran, Mohammad Javad Azari-Jahromi menyebut Trump sebagai teroris dengan setelan jas.

"Seperti ISIS, seperti Hitler, seperti Jenghis! Mereka semua membenci budaya. Trump adalah teroris yang mengenakan setelan jas. Dia akan segera belajar sejarat bahwa Tidak ada yang bisa mengalahkan bangsa & budaya Iran yang besar,"  cuitnya seperti yang dimuat Reuters, Minggu (5/1).

Pernyataan tersebut muncul setelah teoror Trump yang menargetkan 52 situs Iran. Trump menegaskan negaranya akan menyerang dengan sangat cepat dan keras ke situs-situs tersebut jika Iran menyerang aset Amerika Serikat.

Adapun angka 52 tersebut bukan tanpa arti. Angka itu mewakili 52 orang AS yang disandera Iran setelah ditangkap di Kedutaan Besar AS pada 1979 selama Revolusi Islam Iran.

Kendati demikian, kepala militer Iran, Mayor Jenderal Abdolrahim Mousavi dalam siaran televisi mengatakan bahwa AS tidak memiliki keberanian untuk melakukan konfrontasi militer dengan Iran.

"Dalam potensi konflik di masa depan, yang saya pikir mereka (orang AS) tidak berani melakukannya, di sana akan menjadi jelas di mana nomor 5 dan 2 akan berada," katanya. 

 

Unjuk Rasa Anti-Perang 

Tewasnya Jenderal Qassem Soleimani dalam serangan udara yang dilancarkan oleh Amerika Serikat (AS) telah menciptakan ketegangan yang luar biasa.

Tidak terkecuali ratusan orang yang turun ke jalan-jalan di seluruh AS pada Sabtu kemarin (4/1). Mereka yang khawatir akan terjadinya perang Iran-AS menyuarakan perdamaian.

Dimuat India Today, lebih dari 70 kelompok massa turun jalan. Mereka gelar aksi dengan dukungan dari kelompok-kelompok seperti CODEPINK dan Act Now to Stop War and End Racism.

Mereka tersebar dari Tampa di Florida hingg ke Philadelphia, San Francisco, hingga ke New York.

Pamflet bertuliskan slogan-slogan bertuliskan anti-perang, seperti "No War With Iran" hingga "US Troops Out Of Iran" mewarnai jalan-jalan. Mereka juga berteriak bahwa Presiden AS Donald Trump telah memulai perang dengan membunuh Soleimani.

Di Miami misalnya, hampir 50 orang pengunjuk rasa berkumpul meneriakan, "Tidak ada lagi pembunuhan drone", "Kami menginginkan perdamaian sekarang", hingga "Apa yang kami inginkan? Damai di Iran!".

Hal yang sama juga terjadi di Times Square, New York di mana ratusan demonstran berkumpul meneriakan, "Tidak ada keadilan, tidak ada perdamaian, AS keluar dari Timur Tengah!".

Di Minneapolis, Minnesota, pengunjuk rasa berkumpul di dekat University of Minnesota sembari bernyanyi. Salah satu di antara kerumunan tersebut diketahui adalah Meredith Aby yang merupakan seorang pemimpin Komite Anti-Perang.

"Kita harus keluar dari Irak, bukan mengirim ribuan tentara lagi. Kita perlu mencoba mendinginkan keadaan dengan Iran, tidak menuang bensin ke dalam api," ujar Aby. 

 

Disambut Ribuan Pelayat

Jenazah panglima Garda Revolusi Iran, Qassim Sulaimani yang tewas di Irak dalam serangan militer Amerika Serikat (AS) tiba di Iran, dilaporkan kantor berita IRIB pada Minggu. Jenazah Sulaimani diterbangkan di kota Ahvaz, barat daya Iran.

IRIB mengunggah video peti jenazah yang terbungkus bendera Iran diturunkan dari pesawat dan disambut upacara militer.

Jenazah pimpinan militer Irak, Abu Mahdi Al Muhandis yang juga tewas dalam serangan itu diterbangkan ke Ahvaz, menurut laporan IRIB.

Sulaimani, arsitek operasi senyap dan militer Teheran di luar negeri yang juga kepala Pasukan Quds Garda Revolusi, tewas pada hari Jumat dalam serangan pesawat tak berawak AS yang menyasar rombongannya di bandara Baghdad.

Sejak kematian Sulaimani, warga Iran bersatu menunjukkan kesedihan mereka. Sulaimani dianggap sebagai tokoh terkuat kedua di negara itu setelah Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.(det/mer/rmo/tit)


Create Account



Log In Your Account