Jokowi Ingin Tiru Desa Warna-warni Gamcheon Busan
Presiden Joko Widodo Mengunjungi Gamcheon Culture Village Di Busan, Korea Selatan, Minggu (24/11/2019) Sore.
By: admin
24 Nov 2019 19:22
 
 

Busan (BM) - Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyempatkan diri mengunjungi Gamcheon Culture Village di Busan, Korea Selatan. Jokowi terkesan dengan penataan Desa Gamcheon yang dulunya perkampungan kumuh.

Desa Instagrammable ini menjadi salah satu atraksi wisata di Busan. Desa ini terletak di lereng gunung yang cukup curam sehingga dikenal dengan sebutan 'Machu Picchu-nya Busan'.

"Ya ini sore-sore kita jalan diajak Pak Dubes dan Ibu Menteri Luar Negeri untuk melihat Kampung Gamcheon. Ini adalah penataan kampung yang sebelumnya kumuh, kemudian dilakukan pengecatan, tetapi juga kegiatan pemberdayaannya diisi," kata Jokowi dikutip dari situs Sekretariat Presiden, Minggu (24/11/2019).

Desa yang terletak di Distrik Saha ini memiliki rumah-rumah yang berwarna-warni, dinding dengan beragam karya seni seperti mural, dan atap yang tampak bertumpuk jika dilihat dari atas. Jokowi dan Ibu Negara Iriana turut menikmati lanskap desa dari kafe yang terletak di ketinggian.

"Jadi, misalnya di sini ada kafe, kita bisa minum kopi tapi murah. Kemudian juga ini makanan-makanan seperti ini, tetapi memang kemasannya dikemas dengan sangat bagus, diberikan brand. Ya penyajiannya sangat baik, tapi murah, sangat murah," ujar Jokowi.

Desa Gamcheon yang juga dikenal dengan jalan-jalan dan lorong yang sempit, kini dipenuhi dengan toko suvenir, galeri seni, dan tempat makan di sepanjang jalannya. Penataan kampung seperti Gamcheon, menurut Jokowi, bisa dijadikan inspirasi untuk menata kampung padat penduduk di Indonesia sehingga bisa meningkatkan ekonomi desa dan masyarakat setempat.

"Ini saya kira bisa ditiru dengan modifikasi-modifikasi yang kita buat, tetapi yang paling penting ada perbaikan kampung, diisi kegiatan, kemudian pemberdayaan ekonomi kreatif untuk masyarakatnya diangkat. Saya kira kampung-kampung kita di desa kita mampu membangun seperti ini. Bukan sesuatu yang sulit," ujarnya.

"Paling tidak ya ide-ide seperti ini bisa memberikan inspirasi bagi kepala daerah kita, bagi kampung-kampung kita, bagi desa-desa kita, bahwa dari yang sebelumnya kumuh tidak tertata, kemudian bisa ditata dan bisa mendatangkan peningkatan ekonomi bagi masyarakat," tambahnya.

Jokowi menambahkan, Indonesia sebenarnya memiliki kampung-kampung yang sudah ditata menjadi indah. Misalnya di Klaten, Yogyakarta, dan di Nglanggeran, Gunung Kidul.

"Ada beberapa mungkin di desa di kita yang sudah dengan versi berbeda misalnya kampung, di pondok, ya itu di Klaten dan juga di Yogya, di Gunung Kidul, di Nglanggeran, sudah dengan versi yang berbeda-beda ya," tandasnya.

 

Kerjasama Perdagangan

Duta Besar (Dubes) Republik Indonesia Untuk Korea Selatan (Korsel) Umar Hadi mengemukakan, kinerja perdagangan Indonesia dengan Korea Selatan dalam 5 (lima) tahun terakhir terus meningkat. 

“Angka terakhir tahun 2018 adalah sudah mencapai totalnya 20 miliar dollar AS, ekspor kita sekitar 11 miliar dollar AS, impor kita sekitar 9 miliar dollar AS,” kata Umar saat mendampingi Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi melakukan media briefing di Lotte Hotel, Busan, Korsel, Minggu (24/11) siang. 

Jadi, menurut Dubes Umar Hadi, kinerja perdagangan  RI-Korsel itu produktif karena jenis-jenis komoditi yang diperdagangkan juga complementary. Hanya memang, lanjut Dubes Umar, tantangannya adalah bagaimana terus meningkatkan ekspor produk-produk manufaktur dari Indonesia dan Korea Selatan. 

“Ini kelihatan potensi yang besar-besar itu, seperti produk-produk kayu lalu produk makanan, minuman olahan, terus produk-produk olahan dari seafood termasuk itu, juga tentunya komponen otomotif juga saya lihat cukup besar dan seterusnya, serta alat-alat electrical, seperti itu. Jadi, kelihatan sekali banyak peluang yang bisa kita kerjakan,” jelas Dubes. 

Sementara di bidang investasi, menurut Menlu Retno Marsudi, investor Korea Selatan di Indonesia nomor 6 terbesar untuk tahun lalu mencapai 1,6 miliar dollar AS. “Dia kan banyak di manufaktur,” sambung Menlu. 

Ditambahkan Dubes RI di Korsel, Umar Hadi, secara tradisional perusahaan-perusahaan menengah Korea itu Investasi di Indonesia di tekstil, garmen, sama sepatu. 

“Kalau kita perhatikan di Karawang, Purwakarta, Kabupaten Bandung. Itu garmennya Korea. Itu ekspor. Itu sekarang mulai beralih ke daerah Jawa Tengah sudah masuk Tegal, Kendal, Semarang,” terang Dubes. 

Selain itu, menurut Dubes Umar Hadi, investasi Korsel sekarang juga mulai masuk yang industri-industri besar seperti misalnya Industri Petrokimia, seperti Lotte Chemical itu di Cilegon. 

“Tahun lalu sudah groundbreaking bulan desember tahun lalu. Itu nilai investasinya itu 4,3 miliar dollar AS. Lalu dari situ industri turunannya di bidang Peteokimia itu sudah mulai masuk. Jadi yang ada produknya ABS itu jadi kita lihat itu peluangnya sangat besar,” kata Dubes Umar Hadi. 
Sementara kalau infrastruktur, menurut Dubes RI di Korsel, khususnya di Pembangkit listrik banyak di Jawa Timur, Cirebon, Jawa Barat juga ada. Mitra Potensial Mengenai tenaga kerja, Menlu Retno Marsudi mengemukakan, jumlah tenaga kerja Indonesia yang bekerja di Korea Selatan juga cukup banyak ada 28.248 pekerja, sebagian besar dari mereka bekerja di bidang manufaktur. Karena itu, Menlu menilai, Korea Selatan merupakan salah satu mitra yang sangat potensial untuk dikembangkan. (set/det/tit)

 


Create Account



Log In Your Account