Ekonomi RI Stagnan, Bambang: Kembali Ke Sektor Manufaktur Dan Jasa Modern
Bambang Brodjonegoro
By: admin
22 Jul 2019 17:56
 
 

JAKARTA (BM) - Menteri PPN Bambang Brodjonegoro menyorot kondisi perekonomian Indonesia yang stagnan selama beberapa dekade terakhir. Meski pertumbuhan ekonomi Indonesia stabil di kisaran 5 persen, tetapi secara historis rata-rata pertumbuhan Indonesia menurun.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pernah melewati angka 7 persen, tetapi kini 5,3 persen saja. Menteri Bambang menyadari bahwa permasalahan ada di ketergantungan Indonesia pada sektor komoditas.

"Kita harus waspada karena rata-rata pertumbuhan ekonomi kita terus menurun dari angka sekitar 7,5 persen pada zaman Indonesia mengalami booming minyak, kemudian menurun menjadi 6,4 persen per tahun ketika Indonesia mengalami booming di sektor manufaktur, khususnya sektor padat karya, di tahun 1990-an," ujar Menteri Bambang di JCC, Jakarta, Senin (22/7).

Situasi mulai berubah makin negatif setelah krisis finansial asia 1998, rata-rata pertumbuhan ekonomi Indonesia kembali turun menjadi 5,3 persen. Ketika itu ekonomi Indonesia didominasi oleh komoditas seperti batu bara dan sawit.

Menteri Bambang pun menyayangkan hingga kini pun ekspor masih didominasi mineral (batu bara) dan agrikultur (sawit). Sementara, Malaysia mengunggulkan ekspor barang elektronik, Vietnam mengekspor tekstil, dan Thailand mengandalkan ekspor mesin, elektronik, kimia, dan jasa.

"Ketika ekonomi bertumpu pada komoditas, apakah itu batu bara atau kelapa sawit, maka yang kita alami sekarang pertumbuhan ekonomi kita hanya 5,3 persen. Jadi kesimpulannya adalah kalau mau pertumbuhan ekonomi kita tinggi, kita harus kembali ke sektor yang produktivitasnya tinggi, yakni manufaktur dan sektor jasa modern," jelas sang menteri.

Menteri Bambang yakin pertumbuhan ekonomi bisa menembus 6 persen jika sektor manufaktur Indonesia meningkat. Edukasi dan peningkatan skill pun dibutuhkan demi mencapai hal itu, selain itu Menteri Bambang berharap regulasi yang tak ramah investor dan birokrasi tak efisien bisa segera dipangkas demi menunjang ekspor.Ekonomi Indonesia Terus Merosot, Ada Masalah Apa?

 

Pertumbuhan Di Bawah Target

Sementara itu, Badan Anggaran DPR RI dan Pemerintah sepakat prognosis semester II-2019 dalam proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun ini hanya akan berada di angka 5,2 persen. Pertumbuhan ekonomi ini pun di bawah target awal sebesar 5,3 persen.

Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, mengatakan penyesuaian angka pertumbuhan ekonomi tersebut dilihat dari sisi permintaan dan produksi. Di mana dari sisi permintaan investasi dan konsumsi masih belum menunjukkan hal positif.

"Sementara itu untuk ekspor selain dorong competitiveness, suasana lingkungan global pasti akan terpengaruh," katanya saat ditemui di Gedung DPR RI, Jakarta, Senin (22/7).

Sri Mulyani melanjutkan, jika dilihat dari sisi permintaan tantangan masih cukup besar dari sisi eksternal. Sedangkan dari sisi produksi, kebijakan fiskal sektor produksi juga sudah mencapai output gap mendekati 0.

"Dan kita harus meningkatkan kapasitasnya semua berujung ada persoalan bagaimana meningkatkan investasi di Indonesia," katanya.

Oleh karena itu, Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu berharap ke depan pemerintah secara bersama-sama dapat memperbaiki iklim investasi agar lebih baik. Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi Indonesia pun akan terdongkrak.

"Kita bekerja memperbaiki iklim investasi jadi baik dan sisi kualitas pertumbuhan ekonomi secara makro growth ciptakan employment. Sehingga tingkat pengangguran akan turun dan kemiskinan menurun. Ini equality," tandasnya. 

 

Investasi Semester I Turun

Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, memprediksi pertumbuhan investasi semester I-2019 bakal berada di kisaran 5 persen. Dirinya berharap laju investasi di semester selanjutnya akan tumbuh lebih baik.

"Semester I (diperkirakan) menurun lagi di 5 jadi kita akan tingkatkan di semester II. Diharapkan momentum naik," katanya.

Menteri Sri Mulyani menargetkan investasi di semester II mampu tumbuh di angka 6 persen. "Kalau target kita akan lihat tapi saya harapkan semester II akan lebih baik dari kondisi semester I. Jadi kita bisa berharap bisa meningkat di 6 persen," katanya.(mer/det/tit)


Create Account



Log In Your Account